goreng sumsum

Home » » Ikhlas Beramal, Bukan Beramal Seikhlasnya

Ikhlas Beramal, Bukan Beramal Seikhlasnya

Written By Unknown on Senin, 16 Juli 2012 | 11.48

Ikhlas merupakan hakikat agama dan  kunci dakwah para rasul. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman, yang artinya:” Barangsiapa beramal dengan satu amal di mana Aku disekutukan padanya dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan ia bersama kemusyrikannya.” (HR. Muslim)

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: ” Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari demi mendapat ridha-Nya, tapi ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sesuatu dari dunia, maka ia tidak akan mencium wanginya surga pada hari kiamat.: (HR. Abu Dawud)

Ikhlas adalah menuluskan segenap gerak, diam, dan pengabdian (ibadah), baik secara lahir maupun bathin, hanya karena Allah, tidak mengharap sedikit pun bagian dari dunia atau sekedar pujian manusia. Dengan adanya keikhlasan, maka Allah akan membalas amal yang sedikit dengan pahala yang banyak. Sebaliknya, dengan adanya riya’,Allah tidak akan memberi balasan apa pun bagi amal sebanyak apapun.

Bisa saja seseorang mengerjakan satu amal yang terlihat tidak seberapa, namun disertai segenap keikhlasan  dan penghambaan kepada Allah, lalu Allah mengampuni dengan amal itu dosa-dosa besarnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, yang artinya: ”Pada hari kiamat, seorang laki-laki dari ummatku akan dipanggil di hadapan para makhluk. Kepadanya ditunjukkan 99 gulungan catatan(keburukan). Tiap-tiap catatan sejauh mata memandang. Lalu dikatakan padanya, ”Apakah kamu mengingkari sesuatu dari catatan ini? Apakah para malaikat pencatat-Ku telah menzalimimu? ” Ia menjawab, ”Tidak, wahai Tuhan.” Kemudian dikatakan lagi padanya, ”Apakah kamu memiliki alasan atau satu kebaikan pada catatan itu?” Ia menjawab,  ”Tidak.” Lalu dikatakan kepadanya, ”Ya, sesungguhnya bagimu di sisi Kami ada satu kebaikan dan sesungguhnya tidak ada kezaliman atasmu pada hari ini.” Kemudian ditunjukkan padanya sebuah kartu (bithoqoh) bertuliskan Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wa anna Muhammadan ’abduhu wa rasuuluh. Kala itu ia berkata, ”Ya Tuhan, apa artinya bithoqoh ini dibandingkan gulungan-gulungan catatan (keburukan)  itu?” Dikatakan padanya, ”Sesungguhnya kamu tidak akan dizalimi.” Lalu gulungan-gulungan catatan keburukan itu diletakkan di satu sisi timbangan sedang bithoqoh (yang berisi satu kebaikan) di sisi lainnya. Ternyata, catatan-catatan keburukan itu menjadi ringan sedang bithoqoh lebih berat.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibn Hibban dan Al-Hakim)

Sumber: Renungan Harian Seorang Muslim (Dr. Abad Badruzaman, LC, M.Ag)
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Modified | website murah | KomputerMurah
Copyright © 2011. ujicoba - All Rights Reserved
Template Created by Maskolis.com
Proudly powered by Blogger